sebuah puisi tentang Rindu yang menyesakkan dada seorang wanita. Ia tengah meringkuk memeluk hatinya yang diliputi rasa sepi seperti sepinya hari-hari yang ia lalui di negeri orang. IBU mungkin kata Rindu tak cukup untuk mewakili rasa sesak di dadaku mungkin ungkapan Rindu juga tak mampu mewakili wajahku yang lebam tak berdarah lalu prihal apa yang bisa mengobatinya pertemuankah! memendamkah! atau menyibukkah! ku bilang Aku sudah melapas Rindu bertatapan wajah di hp namun setelahnya aku Rindu lagi ternyata pertemuan online mengakibatkan Rinduku beranak-pinak bukan mengobati rasa mungkin benarlah Rindu lebih kejam dari munafik sekali bertemu selamanya akan Rindu hari ini bertemu esok sudah Rindu