Langsung ke konten utama
sebuah puisi tentang Rindu yang menyesakkan dada seorang wanita. Ia tengah meringkuk memeluk hatinya yang diliputi rasa sepi seperti sepinya hari-hari yang ia lalui di negeri orang.


IBU

mungkin kata Rindu
tak cukup untuk mewakili rasa sesak di dadaku
mungkin ungkapan Rindu
juga tak mampu mewakili wajahku yang lebam tak berdarah

lalu prihal apa yang bisa mengobatinya

pertemuankah!
memendamkah!
atau menyibukkah!

ku bilang Aku sudah melapas Rindu
bertatapan wajah di hp
namun setelahnya aku Rindu lagi

ternyata pertemuan online
mengakibatkan Rinduku beranak-pinak
bukan mengobati rasa

mungkin benarlah
Rindu lebih kejam dari munafik
sekali bertemu
selamanya akan Rindu
hari ini bertemu
esok sudah Rindu








Komentar